Warisan kata: karena tak semua orang berani mewarisi sesuatu dan sungguh sedikit yang berani.
Oleh Muhammad Fauzi

Muhammad Fauzi duduk bersama rekan-rekannya di Sei Rokan, sebuah tempat pelatihan dalam perkebunan kelapa sawit PT Ivo Mas Tunggal, sekitar dua jam dari Pekanbaru, Riau.
Ada banyak warisan penutup riwayat hidup. Dan ada satu yang hampir selalu berulang: warisan cita-cita pada generasi muda, dalam bentuk kata-kata.
Malam itu, pukul 21.30, dalam acara penutupan workshop jurnalisme narasi, Andreas Harsono mewariskan kata-kata: "Cita-citaku cuma dua. Mendirikan sekolah wartawan, macam
graduate school, yang ditempuh dalam waktu satu tahun untuk mengembangkan mutu wartawan di Indopahit ini. Yang kedua, aku ingin salah satu orang yang ikut pelatihan aku, mendapatkan
Pulitzer Prize, atau paling tidak, mendapatkan
Nieman Fellowship di Harvard atau
Knight Fellowship di Stanford. Jadi, aku harap kalian tidak hanya bercita-cita sampai sekelas
Kompas atau
Tempo ... Besok, aku akan meninggal dengan tenang, jika salah satu dari kalian mendapatkan hadiah
Pulitzer."
Nada suara penuh pengharapan, juga ada semacam kecemasan, meski tenang. Ah, semua orang yang sudah merasa tua, paham, dan penuh cita, akan selalu melakukan dan mengatakan hal serupa: mewariskan cita-cita. Hal serupa juga dilakukan oleh dokter Jawa zaman Belanda itu, dokter Wahidin, yang jadi ikon di Indonesia.
Dalam hatiku, aku bertanya-tanya: kenapa dia seakan putus asa pada dirinya sendiri, terutama saat dia mengatakan bahwa dirinya takkan mendapatkan
Pulitzer. Ah, itu juga perasaan yang dialami dokter Jawa itu, juga beribu-beribu pewaris cita-cita. Yakin akan disambut oleh yang lebih muda, dan sudah sadar diri tidak akan bisa menggapai cita-cita itu.
Aku tidak tahu, sudah berapa kali dia mengatakan hal serupa, dalam pelatihan di mana dia jadi instruktur.
Untuk yang pertama, aku yakin dia bisa mewujudkannya di Indonesia. Entah kapan. Aku harap dalam waktu dekat, ada orang atau lembaga, yang bersedia membiayainya. Tapi, untuk yang kedua itu, hadiah
Pulitzer, duh ... entah kapan akan terwujud.
Saat mendengarkan warisan kata itu, aku terdiam. Lalu, aku mencoba menggugat hatiku: siapa yang berani mengambil warisan ini? Apakah aku berani? Warisan kata selalu lebih merepotkan, lebih rumit, dan lebih merugikan, secara psikis, dibandingkan warisan harta. Warisan kata hampir tidak ada yang mau merebutnya. Meng-iya-kan saja
wegah.
Seandainya aku berani mengambil warisan itu, berarti aku harus berani belajar, belajar, dan belajar, lebih intens, lebih serius, dan, tentu saja, lebih ambisius. Paling tidak, aku harus melebihi dia dalam belajar, membaca buku-buku, mengasah kemampuan jurnalistik, membuat jaringan, dan sebagainya. Jadi, warisan kata menyiksa; warisan harta membawa nikmat.
Tapi, aku yakin siapapun orang yang berani mengambil warisan kata itu, dia adalah orang yang sangat berbakti pada guru, orang yang sangat mengerti tentang arti perjuangan.
Beranikah aku? Kamu? Siapa yang berani mewarisi kata?
Ditulis di Sei Rokan Training Centre, Riau, 6 Maret 2010Diketik di Surakarta, 12 Maret 2010
Muhammad Fauzi mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta, mengikuti workshop penulisan, yang diadakan Eka Tjipta Foundation dan Bahana Mahasiswa, Universitas Riau, di Sei Rokan, Riau, Maret 2010.
Saya pribadi berpendapat buku In the Time of Madness adalah salah satu buku paling dahsyat menggambarkan chaos masa pasca Soeharto. Entah berapa halaman dipakai oleh Parry untuk mendeskripsikan pembunuhan di Sambas, Jawa maupun Timor Leste. Dia juga cerita adegan dimana dia ditawari makan sate daging manusia, yes, sate manusia di Sambas. Menariknya, Parry mengesankan saya sebagai English gentleman: sopan, rendah hati dan hati-hati dengan kata-katanya.